Senin, 01 Februari 2010


Maria Pasaribu “Mamamia”
Yakin Dibantu Malaikat Tuhan

Degup jantungnya berpacu cepat antara ikut atau tidak ajang kontes bakat “Mamamia” di TV Indosiar. Karena disadarinya finasial orangtuanya tak memungkinkan untuk membiayai dirinya ikut ajang setingkat nasional itu.

Maria Pasaribu, satu dari sekian putra/putri Batak ditempa oleh pahitnya hidup sejak masa kecilnya. Demi perjuangan hidup, ayahanda Maria, James Pasaribu harus banting tulang menjadi supir angkot 46 Kota Medan jurusan Olimpia. Sebagai anak supir angkot, ia sudah terbiasa hidup prihatin dan berbagi bersama keluarganya.
Namun Maria dikarunai talenta darah seni yang kuat. Membrane suaranya yang nyaris sempurna, menjadi modal pergaulan dan belakangan menjadi mata pencahariannya.
Dari lingkungan Gereja Katolik di Hayam Muruk, disitulah ia berkenalan dengan teknik dan olah vocal. Bergabung dalam koor Gereja Santo Anthonius menjadikan karunia pita suara yang dimilikinya dapat mengeluarkan suara nan merdu.
Pada suatu malam, Maria sangat menyadari dan memahami kondisi keluarganya. Ia pun bertelut dan berdoa kepada Tuhan dengan hati yang tulus. “Agar ada jalan untuk kehidupan lebih baik,” tukasnya lirih mengadu dan meminta. Sehingga ia yakin dan sadar apa yang diraih kemudian, dan segala kemudahan jalan hidupnya semata karena kasih cinta Tuhan dan malaikatNYA yang turut mendampingi niat baiknya untuk membantu kedua orangtuanya.

*

Sore itu menjelang malam, Arta News bersua dengan Maria Pasaribu disebuah pertokoan di Gajah Mada Plaza, Jakarta Pusat. Dari perawakannya saat itu, sungguh tidak tampak bawah dara belia ini adalah pemenang program ajang kontes bakat “Mamamia” di tahun 2008. Pakaian serta asesoris yang melekat ditubuhnya itu begitu sederhana namun bersahaja. Jelas berbeda jika dibandikan dengan kebiasaan artis umumnya yang biasanya glamour dan seronok.
Dalam perbincangan itu, Wajahnya memendar kesahajaan. Tak tampak, ia, bintang pemuncak acara entertainment bertajuk Mamamia 2008. Ia pun tak merasakan perubahaan cuaca yang agak ekstrim. Enjoy demikian pemilihan kata yang tepat untuk disematkan pada dirinya.
Dalam perbincangan yang penuh kehangatan bersama Arta News di Mall Gajamada Jakarta Pusat ia menceritakan sejak kelas 1 SD sampai SMA di kota Medan, selalu ikut pelbagai festival. Dari waktu ke waktu, kesertaannya dalam lomba bernyanyi barulah berbuah hasil, saat ia menginjak kelas 2 SMP.
Melalui sebuah tabloid mingguan terbitan Jakarta, matanya berbinar sesaat menengok sebuah iklan Mamamia untuk remaja. Degup jantungnya berpacu cepat antara ikut atau tidak. Karena kondisi finasial orangtuanya yang tak memungkinkan.
Tekadnya tetap membara. Pastor Deptus Simamora melihat itu. Ia menggalang umatnya untuk bersama-sama mendanai keberangkatan Maria putri James Pasaribu/Selly Br. Rajagukguk.
Sesaat berada Jakarta, dalam audisi yang dimulai pukul 09.00 hingga dinihari, belum juga rampung. Panitia memberikan waktu esok bagi yang mau melanjutkan. Hasil kesepakatan dengan ibunya, Maria tetap melanjutkan dinihari itu juga. Dengan kondisi tidak fit, ia lolos. “Puji Tuhan,”meluncur dari bibirnya yang mungil. Hingga 42 besar, ia masih beruntung. Akhirnya nama Maria tercantum dalam 15 besar.
Sekali lagi, hanya dengan tekad kuat Maria dan ibunda, ia ke Grand Final Mamamia. Dengan sangu sebesar 1 juta rupiah, Maria dan ibunya harus benar mampu mengelola dana minim tersebut selama berlangsungnya mulai pembelian baju dan biaya hidup. Cercaan berkisar kostum performanya, kerap jadi sasaran tembak juri Ivan Gunawan. Perempuan kelahiran Medan, 1992 cukup sedih. Rasa simpati berupa kiriman beberapa potong baju yang modis dari Ibu Siahaan boru Naibaho melegakan hatinya. Nantulang, dalam tarombo (sebutan silsilah Batak).
Maria pun akhirnya berhak mendapatkan mahkota juara pertama Mamamia dengan hadiah 100 juta rupiah. Ia serahkan kepada orangtuanya. Maria Mamamia (18) mengatakan,”Puji Tuhan!”
Kini ia tinggal di Jakarta bersama keluarganya. “Bapak dan Ibu tak betah di Jakarta. Kalau nanti aku sudah mampan, mereka minta kembali ke Medan,”katanya kepada Arta News.
Album lagu Batak “Amang Naburju” dengan produser Johanes Hutasoit menambah perbendaharaan hidupnya. Hanya saja, ia tetap fokus untuk melanjutkan studynya sebagai modal utama masa depannya.
Maria menapak karir dengan semangat juang tinggi. Ia percaya Malaikat Tuhan pun telah diutus untuk membantunya.Parulian Tambun

Data diri:

Nama : Maria Anggreini Grace Kelly Pasaribu
Nama Panggilan : Maria
Tgl Lahir : Medan 04 Oktober 1992
Nama ayah : James Pasaribu
Ibu : Selly Br. Rajagukguk
Anak ke : 1 dari 3 bersaudara
Pendidikan : Kelas 3 SMA Tarsisius 1 Jakarta Pusat (IPS)
Show : Launching Grand Mas (Bekasi)
Natal Sumatera Utara
Album Batak : “Amang Naburju” Produser Johanes Hutasoit
Prestasi : Mamamia Show (2008) Juara 1 Indosiar
Hobby : Nyanyi, badminton
Makan favorit : KFC
Bintang : Libra



Artis Anggota DPR RI Mendesak
Aparat Hukum Bersikap Tegas

Pemerintah dan Aparat Hukum tidak dapat terus menerus menutup mata terhadap Pembajakan VCD dan DVD lagu dan film. Karena akibat pembiaran tersebut, nasib para pekerja seni makin hari makin terancam. Untuk itu, artis pekerja seni yang ada di DPR RI pun mendesak pemerintah untuk memberantas secara tuntas dan total para pembajak, parasit pekerja seni Indonesia .

Anggota DPR RI Komisi X (Seni Budaya dan Olah raga) Fraksi Gerindra, Jamal Midrad kepada Arta News menyatakan prihatin terhadap aksi pembajakan yang kian tahun makin meningkat jumlahnya. Untuk itu, ia setuju agar dilakukan gerakan pemberantasan pembajakan VCD/DVD film dan lagu bajakan secara sinergis, tuntas dan total tanpa tedeng aling.
“Kalau diberantas harus secara total jangan hanya di kelas teri saja. Karena pembajakan itu datangnya dari mereka yang memiliki jaringan dan modal yag kuat. Sehingga, dengan kekuatan itu mereka berani mencuri karya seni anak bangsa demi keuntungan pribadi mereka (mafia bajakan),” jelas Jamal.
Menurut Jamal, terkait pembajakan pemerintah harus secara tegas dan konsekuen menjalankan hukum dan sanksi yang telah ada. Utamanya, pada tatanan pelaksanaannya. Karena bila hal itu sudah sesuai, maka dengan demikian fungsi pemerintah sebagai pelindung yang memberikan rasa aman dan nyaman untuk para pekerja seni itu berjalan dengan semestinya. “Kalau tidak diberikan sanksi terhadap mafia bajakan, ini sama saja pemerintah tidak sayang dengan nasib para pekerja seni itu,” tukasnya.
Jamal juga secara tegas menyatakan sangat setuju apabila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai pucuk pimpinan tertinggi RI memberikan mandat atau instruksi kepada Kepala Kepolisian RI (Kapolri) agar jajaran aparat penegak hukum ini melakukan tindakan tegas terhadap pembajak dari kepalanya hingga ekornya dan tidak. Karena presiden sebagai pimpinan negara juga harus memperhatikan hal-hal yang menyangkut nasib pekerja seni. Tidak semata selalu urusan yang hanya mengancam kedudukannya atau partainya. Sebab pembajakan ini kompleksitas permasalahannya sudah sepantasnya, presiden bersikap. Sehingga rasa keadilan itu dirasakan bahwa sang pemimpin negara ini, turut angkat bicara terhadap persoalan yang mengganggu nasib rakyatnya. Apalagi ketika persoalan ini juga melibatkan adanya oknum aparat dan mafia pemilik modal besar yang sanggup mengintervensi institusi negara itu.
“Kalau presiden menginstruksikan pemberantasan tuntas kepada kapolri, maka itu sangat mulia. Karena Presiden dengan jiwa seninya juga memperhatikan nasib para pekerja seni. Dengan demikian keadilan yang abadi dapat dirasakan bagi para seniman,” kata suami Lidya Kandau itu.
Ia juga berjanji untuk ikut mendorong agar pemerintahan SBY dapat berlaku dan memberikan sikap yang tegas dalam hal memberantas aksi mafia bajakan yang merugikan bangsa hingga Rp2,1 Triliun/tahun itu. Karena hanya dengan sikap tegas itulah, maka nasib seniman dan para pekerja seni lainnya dapat terlindungi dalam berkarya menciptakan hasilnya yang berkualitas di tanah pertiwi tercinta ini.
Anggota DPR Komisi X dari Fraksi Demokrat, Theresia Pardede menegaskan Indonesia masih mengalami persoalan yang pelik terkait pembajakan musik dan film. Dari data yang dimilikinya, pada tahun 2008 industri musik tercatat rugi 11 triliun dan 1 triliun kerugian negara yang harus ditanggung akibat praktik pembajakan.
Sementara itu Anggota DPR RI dari Komisi VI Fraksi PDIP, Rieke Diah Pitaloka berpendapat, pembajakan ini sudah menjadi masalah dan penyakit yang menahun. Hal itu disebabkan tidak pernahnya pemerintah, khususnya kepolisian dan kejaksaan kurang tuntas dan tegas menindak para pelaku bajakan itu. Biasanya dalam penangannya hanya kepada para pelaku kecil di grass root tidak sampai menyentuh mafia bajakan itu sendiri. Padahal menurut perempuan pemeran “Oneng” dalam sinetron “Bajai Bajuri” ini, kepolisian dan kejaksaan sebenarnya mudah untuk menyusuri, mengidentifikasi dan menangkap para pembajak kakap tersebut. Karena pelaku bajakan tidak serumit kasus teroris.
“Kejaksaan dan kepolisian saya pikir tahu siapa-siapa pelaku pembajakan itu. Karena ini tidak serumit masalah teroris, Karena dari pengecer hingga produsen dapat dengan mudah disusuri. Jadi persoalan pembajakan itu, utamanya akibat ketidakseriusan aparat penegak hukum,” jelas Rieke.
Dari DPR RI Fraksi Demokrat Komisi VIII, Inggrid Kansil Palupi juga membenarkan bahwa tindakan aparat hukum masih kurang tegas dalam menindak pelaku VCD/DVD bajakan. Sehingga pada praktik di lapangan VCD/DVD bajakan yang berbau pornografi juga turut mewarnai perdistribusian barang bajakan itu ke masyarakat. Naifnya, pelanggannya justru banyak anak di bawah umur dewasa.
Menurutnya, begitu mudahnya anak-anak mengakses VCD dan DVD porno bajakan, sangat memprihatinkan. “Untuk itu saya bersama Komisi VIII, Agama Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak, ingin pemerintah bersama kepolisian untuk menindak tegas penyelewengan itu. Utamanya karena Undang-Undang dan aturannya sudah cukup untuk dilaksanakan. Jadi bukan hanya bajakan lagu dan film biasa, tetapi juga DVD/VCD bajakan porno,” jelas Inggrid.
Perempuan yang kerap dengan dipanggil “Inge” ini juga berharap agar para produser mau men-down grade (menurunkan) harga VCD/DVD Original agar dapat bersaing dengan bajakannya. Karena dengan penurunan harga itu, akan berimbas baik terhadap masyarakat menengah dan bawah yang kerap menjadi konsumen VCD dan DVD bajakan. “Tentunya dapat diprediksi dengan harga yang bersaing, masyarakat akan beralih ke orisinil,” tukas eks presenter salah satu televisi swasta itu.
Istri Menteri Koperasi dan UKM, Syarif Hasan ini mengaku prihatin bila penanganan pemberantasan bajakan dibiarkan bergerak dalam ruang yang lemah pengawasan. Kendati ia mengaku belum memiliki data kongkrit peningkatan jumlah anak-anak menonton film porno lewat DVD dan VCD bajakan, namun ia dapat memprediksi dengan kemudahan anak di bawah umur mengakses barang haram itu, jumlahnya di lapangan sudah cukup besar. Artinya, kemerosotan moral bangsa kian meningkat akibat mudahnya anak-anak mendapatkan VCD dan DVD porno bajakan itu.
Persoalan pendistribusian VCD/DVD bajakan di kelas bawah yang mengikat masalah nasib para pengecer yang melakukan hal itu demi memenuhi kebutuhan hidup. Menurut Inggrid, komisinya secara bersama dengan komisi lainnya akan mengagendakan pertemuan agar solusi persoalan itu dapat ditemukan. jef



PROGRAM WISATA 2010 – 2011
MASYARAKAT HARUS MERASAKAN MANFAATNYA
(Benny Panjaitan, Hakim Tobing, Eddy Silitonga)

Ada keterkaitan yang bersifat kohesi (tarik-menarik.red) antara Pekerja Seni, Budaya dan Pariwisata. Sehingga Benny Panjaitan, Edy Silitonga dan Hakim Tobing selaku pekerja seni pun merasa peduli terhadap pengembangan pariwisata dan budaya di tahun 2010 - 2011 ini. Mereka khawatir nasib program itu, tidak dirasakan hasilnya oleh masyarakat. Karena sejauh ini, telah banyak program kurang memperhatikan azas out come (manfaat) nya, alias berhenti di out put (yang penting terjadi) belaka, sementara rakyat tetap saja jadi korban.

Sebenarnya potensi pariwisata Indonesia jauh lebih banyak dan baik, jika dibandingkan dengan Negara Malaysia. Tentunya ini harus perhatian khusus, mengapa Malaysia di bidang pariwisata jauh lebih maju saat ini. Perbandingan pemasukan di bidang pariwisata Malaysia ternyata sudah jauh lebih ke depan. Bahkan, tidak jarang orang Indonesia menjadikan Malaysia sebagai tempat sasaran mereka berlibur dan menjadi turis di negeri jiran itu.
Kecemasan ini diutarakan oleh Personil Panbers, Benny Panjaitan ditemui Arta News di Blok M Square baru-baru ini di Jakarta. Terutama bila ia ingat potensi alami wisata Indonesia sudah jauh lebih baik dibanding Malaysia.
Benny mengaku sangat bangga dengan Indonesia. Bahkan kecintaannya akan alam Indonesia pernah dituangkannya ke dalam sebuah lagu country Indonesia, yang berjudul “Indonesia My Lovely Country”.
Lagu itu menurutnya, inspirasi kepada dunia bahwa negeri Indonesia layak untuk dikunjungi. Terutama jika dipandang dari kekayaan alami pariwisata Indonesia. Dimana terdapat Danau Toba, Tondano, Pantai Panjang, Bunaken, dan lainnya termasuk Bali.
Namun sayangnya, kata Benny, pariwisata belum dianggap sebagai pemasukan utama Indonesia, beda dengan tambang emas, batubara dan lainnya. Tentunya dengan alasannya, demi sebuah asfek pariwisata yang baik diperlukan kesabaran dan waktu yang panjang, beda halnya dengan hanya mengelola hasil bumi Indonesia.
“Nah, kalau hanya Bali yang diandalkan untuk ekploitasi wisata di Indonesia, mana sanggup melawan daerah-daerah wisata yang secara giat dan intensif dihidupkan oleh Negara-negara tetangga Indonesia,” jelasnya.
Benny sebagai pekerja seni mengakui disini persoalan promosi dan pembangunan wisata lokall sangat membutuhkan keseriusan pemerintah. Tidak semata hanya untuk daerah Bali. Akan tetapi harus juga diperhatikan daerah wisata lainnya yang ada di Indonesia.
Sosialisasi ke mancanegara dapat dilakukan lewat media elektronik, cetak dan lagu. Lainnya, persoalan pelayanan dan keamanan juga perlu ditingkatkan. Sehingga daerah-daerah berpotensi wisata tidak mubazir (sia-sia. Red) , tetapi dapat memberi penghidupan bagi masyarakat setempat dan Indonesia umumnya.
“Misalnya Danau Toba apa yang kurang? Namun jika keramahan dan pelayanan penduduk di sekitarnya tidak bersifat well come (terbuka). Maka ini dapat berimbas pada ketidaknyamanan wisatawan mancanegara (wisman) agar mau datang kembali ke daerah itu,” jelasnya.
Selain itu, jelas Benny, pembangunan pendidikan juga harus melihat dari potensi wilayah. Karena menurutnya, sangatlah cocok bila di daerah Danau Toba dibuat sekolah pariwisata. Dengan demikian kemudian hasil didik dari sekolah ini dapat memberikan konstribusi yang baik untuk perkembangan pariwisata di sekitar Danau terbesar di dunia itu. “Nanti setelah lulus dari sana tenaganya bisa siap pakai,” katanya
Namun dari sisi bisnis, bagaimana pun suatu pemandangan wisata dikemas untuk dijual, tidak dapat dilepaskan dari keterkaitannya terhadap seni tari dan seni musiknya. “Memandang enak, makan enak, keamanan enak, hotelnya enak ditambah musik dan tariannya enak dinikmati, maka wisata itu jadi baik,” ulasnya.
Benny juga melihat ada pergeseran perhatian wisata belakangan ini. Ketika wisata permainan menjadi fokus utama target pariwisata. Padahal, permainan sebenarnya tidak dapat dijadikan hal utama dalam peningkatan wisata. Tetapi, keindahan, kenyamanan dan keamanan-lah yang semestinya dijadikan fokus utama.
Benny juga mengutarakan keprihatinannya terhadap dunia budaya belakangan ini, karena di era masa mudanya dulu, tarian, lagu dan unsur-unsur hasil cipta kebudayaan masih mudah ditemui. Berbeda dibanding apa yang terjadi belakangan ini. Justru budaya kolaborasi kurang menjaga budaya orisinil dan di mana harus ditampilkan. Pola “hantam kromo” (asal jadi. red) pun mewarnai pertunjukan seni budaya. “Misalnya saja, dulu masih terdengar musik tradisional dimana mana, sekarang ini berubah tiba tiba. Lagu dangdut di hajar di danau toba, mati lah kita,” jelas Benny.
Namun ia menyadari, pemerintah hanya memfasilitasi dan tidak dapat disalahkan. Pemerintah daerah dan lingkungan mesti bekerja keras, setidaknya pembangunan SDM dan infrastruktur harus dikedepankan demi mendapatkan daerah wisata layak jual.
“Seumpama Danau Toba, berkali-kali saya kesana. Ya…ampun, pemandangan luar biasa. Nah kenapa? orang tidak mau ke sana. Bahkan orang Medan sendiri juga tidak datang,” katanya “Satu contoh bikin di Danau Toba kampung seniman entah mereka menjual suaranya, atau apapun lah. Karena sekarang hal itu tidak ada. Yang dijual kereta dayung aja, itu di Jakarta juga banyak,” ungkapnya.


Hakim Tobing
Sementara itu, Hakim Tobing menyatakan tentang pencanangan program pariwisata selama ini, masih belum memperlihatkan harapan yang baik untuk memberikan penghidupan bagi pekerja seni dan rakyat pada umumnya.
“Kalau kita bicara pariwisata itu semata keuntungan pemerintah. Belum menjanjikan memberi keuntungan bagi masyarakat. Jadi kalau saya lihat pariwisata tahun 2009 ini bagus, oleh karena melampaui target jumlah. Cuma 2010 - 2011 itu, bila bisa dijanjikan oleh pemerintah terhadap kehidupan masyarakat di daerah masing-masing,” jelas Hakim Tobing saat ditemui Arta News di kediamannya baru-baru ini.
Jadi pertumbuhan pariwisata menurut Hakim tidak hanya mengunci diri pada masyarakat pelaku wisata saja. Karena bukan hanya orang hotel dan travel yang bicara pariwisata. “Itu terlalu sempit sekali,” tukasnya.
Menurutnya, perlu juga melibatkan seluruh elemen masyarakat, dunia pendidikan bahkan sampai tingkat sekolah dasar agar tercipta swakarya dan swadaya masyarakat serta penyadaran terhadap masyarakat. Artinya, diperlukan pemberdayaan masyarakat sadar pariwisata untuk mendukung pariwisata yang unggul.
“Tapi kita belum ketinggalan, hanya saja sebenarnya sudah harus ada beberapa daerah yang semestinya sudah lebih maju. Sayangnya, ada daerah yang lebih maju seperti Danau Toba justru belakangan kurang diminati,” jelas Hakim.
Semisal pandangannya tentang Pesta Danau Toba yang dinilainya begitu-begitu saja alias tidak ada peningkatan sejak pesta tersebut pertama kali digelar. Tetapi disini menurutnya, akses perhubungan udara yang benar-benar bisa transit para turism untuk langsung ke Danau Toba, misalnya di Siborong-borong. Tujuannya agar para wisatawan dapat merasakan perjalanan darat menuju Danau Toba.
Selain itu, di Prapat yang kurang menjanjikan rasa aman, karena sering terjadi kecelakaan. Untuk itu menurut Hakim, sepantasnya pemda setempat memberikan pengamanan khusus secara terpadu dan positif sebagai bentuk pelayanan pariwisata untuk wisatawan itu. Misalnya dengan membuat penghalang untuk menjaga kecelakaan yang langsung jatuh ke jurang di sekitar lokasi sepanjang jalan akses ke Danau Toba.
“Jadi, infratruktur perlu dibangun secara terpadu demi upaya perbaikan wisata di Danau Toba bukan sekedar pelaksanaan pesta belaka. Ini harus kita gugah bersama,” tukasnya.
Dari sisi SDM, Hakim melihat perlunya program pemberdayaan bagi masyarakat untuk membangun kampung halamannya sendiri. Dalam rangka perbaikan jalan saja misalnya, masyarakat yang diuntungkan atas perbaikan dan pembangunan jalan itu sudah semestinya dilibatkan agar turut memiliki pembangunan itu.
“Jadi harus ada tekad seorang kepala daerah sebelum dia jadi gubernur, bupati dan walikota ada program untuk meningkatkan pariwisata Sumut. Akses ke sana harus aman datang ke sana. Bila itu tidak diperbaiki, percayalah! Tidak ada orang yang mau datang kesana,” ujarnya.
Hakim juga berpendapat bahwa kesiapan SDM sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pariwisata. Untuk itu Depnakertrans atau setingkat dinas sepantasnya melakukan program pemberdayaan atau pelatihan dari sisi wisata. Dicontohkannya, Departemen meminta kepada sekolah-sekolah pariwisata untuk dapat berperan secara aktif pula, kaitannya dengan promosi wisata.
Kesimpulan Hakim terhadap kemajuan pariwisata dari masa lalu dan kini, masih sebatas meneruskan program yang sudah ada sebelumnya. Artinya belum ada sesuatu yang inovatif dan kreatif demi perkembangan dunia pariwisata itu alias kurang memuaskan.
“Jika ada data peningkatan pariwisata di Departemen Pariwisata dari wisman yang datang ke Indonesia, saya rasa itu bukan ukurannya. Karena tidak terjamin apakah meraka yang dating berharap untuk dating lagi, atau mereka datang dan pulang dengan perasaan kesal,” jelas Hakim Tobing.
Soal pelestarian Budaya, Hakim memandang, rasa fanatik terhadap budaya jauh lebih tinggi generasinya dulu dibanding generasi sekarang ini. Menurutnya, duta-duta budaya saat ini juga kurang mendalami dan menghayati persoalan budaya itu sendiri. Sehingga regenerasinya masih jauh dari harapannya.
Diakhir wawancara, Hakim juga mengutarakan harapannya, bahwa budaya merupakan harga diri bangsa. Untuk itu, Pemerintah maupun pemda harus mendukung dunia budaya sebagai basis pembangunan negara. Kearifan lokal semestinya digali dan dimanfaatkan demi pembangunan yang mem - “bumi”. Tidak asal contoh dan jiplak. Atau sekedar buat program demi keuntungan pelaku pembangunan bukan apa manfaatnya bagai sasaran pembangunan (rakyat). Selain itu, pemda yang tidak mampu merangkul perantau asal wilayahnya, dapat dikatakan kepemimpinannya akan gagal. “Jadi kepala daerah harus bisa merangkul, tapi kalau dia hanya memikirkan bagaimana menghabiskan APBD saja, ya... tidak akan bisa berjalan,” imbuhnya.

Edy Silitonga:
Sebagai artis yang besar di lingkungan Jawa, Melayu dan Menado, dan menghabiskan masa kecilnya di Siantar dan Rantau Praparat, Eddy Silitonga melihat proyeksi pelestarian budaya terhadap generasi muda di tahun 2010 akan jauh merosot dibandingkan tahun sebelumnya. Terutama, jika dibiarkan terus-menerus industri televisi mempertontonkan tayangan yang tidak mengarahkan masyarakat untuk mencintai budayanya sendiri. Misalnya sinetron-sinetron yang marak di televisi bukan mempertontonkan kehidupan real dari budaya Indonesia. Karena dengan kemasan film, lebih mudah diserap oleh masyarakat. Sebaiknya, tema-tema sinetron harus dapat mempertontonkan kisah dan persoalan budaya, sehingga kemudian menggairahkan generasi muda untuk lebih mencintai budayanya.
“Generasi sekarang sudah mulai tidak mengenal budayanya sendiri. Sementara, kita berkoar-koar (bicara) kemana mana soal budaya. Terutama tivi-tivi sekarang, ada tidak yang mempertontonkan budaya seluruh Indonesia. Sekarang televisi hanya mempertontonan acara acara yang sifatnya hiburan semata dan tidak menonjolkan budaya,” jelas Eddy.
Nah, kalau kemudian hari Indonesia sebagai bangsa berbudaya, generasinya tidak lagi mengenal budayanya. Apa namanya disebut bangsa ini? Karena negara yang tidak mengenal budayanya adalah bangsa yang tidak punya harga diri. “Apalagi bicara menyejahterakan pekerja seni,” ungkapnya.
Eddy juga mengaku miris memperhatikan penghargaan masyarakat terhadap pekerja seni budaya. Semisal penari adat yang hanya mendapatkan upah Rp50 hingga 200 ribu ketika mereka pentas. Sementara ada pentas dangdut yang mengekploitasi goyangan pantat dan digoyangkan ke penonton bisa dibayar hingga Rp50 juta. Hal ini menurut Eddy merupakan ketimpangan yang sangat mengkhawatirkan nasib pekerja seni budaya.
“Saya menangis,.Lihat paruning-uningan di pesta adat Batak, gondang itu dibayar untuk hadir dari jam 10 hingga 8 malam ditambah penyanyi, trio, penari dimintai harga Rp5 juta, dibilang mahal,” jelas Eddy.
Pelantu lagu “Mama” ini juga mempertanyakan apakah pariwista 2010 sudah siap untuk diekpos dan apakah sudah dilakukan pembenahan di semua lini pariwisata. Karena selain itu manusia Indonesia juga semestinya sudah harus menciptakan rasa persahabatan dengan alam, karena dengan diberikan Tuhan tempat dan daerah yang sudah baik, semestinya untuk dijaga dan dilestarikan. Termasuk Danau Toba dari persoalan limbah, eceng gondok dan sampah.
Terhadap budaya itu, Eddy juga menyayangkan ketika pemerintah lebih memperhatikan politik, Sedangkan terhadap budaya sendiri, mengapa harus ada masalah dulu baru ada tindakan.
“Saya ingat ketika diundang bernyanyi di Ulang Tahun Mantan Presiden Soeharto. Kata Pak Harto, Eddy, kok dari semua penyanyi hanya kamu saja yang banyak menyanyikan lagu daerah dan menjiwainya,” tutur Edy “Karena itulah budaya yang saya banggakan,” tambah Eddy menjawab pertanyaan Alm Presiden RI Ke II itu.
Dari kemampuan bernyanyi semua daerah itu, Eddy juga mengaku banyak panggilan bernyanyi untuk berbagai suku itu. Sehingga ia tidak hanya berhenti bernyanyi lagu Batak semata. “ni dampak positifnya kita bisa membaur bernyanyi untuk daerah mana saja intinya untuk memajukan budaya dan seni di Indonesia,” jelasnya. Ian/jef

FENOMENA 1


Kabid Humas Depbupar, Turman Siagian
Pariwisata Jadi Skala Pembangunan Nasional
Pariwisata merupakan asset Indonesia yang belum banyak dikembangkan. Pemerintah telah memulai agar sektor Pariwisata dikembangkan menjadi Skala Pembangunan Nasional. Tentunya, hal ini berdampak pada sector lain seperti pembangunan infrastruktur jalan, perhubungan, sarana dan prasarana.

Saat ini, peran pariwisata di Indonesia akan diletakkan pada skala pembangunan nasional. Karena semakin lama pemerintah melihat potensi sumber energi yang dieksploitasi kian tahun makin menipis cadangannya. Sehingga pariwisata dipandang pemerintah sebagai sumber daya yang kini paling pas untuk dijadikan sebagai prioritas. Nantinya, secara perlahan akan dapat menggantikan eksistensi devisa negara dari hasil tambang, seperti minyak bumi, gas dan batu bara. Dalam kedudukan seperti itu, maka pariwisata menjadi semakin penting dalam skala pembangunan nasional.
Hal itu dijelaskan oleh Kepala Bidang Humas Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Turman Siagian, MSi kepada Arta News di kantornya, baru-baru ini.
“Pariwisata ini sudah merupakan kebutuhan dan bagian hak asasi manusia. Di mana Manusia berhak menghabiskan waktu luangnya untuk kegiatan kepariwisataan,” jelas Turman “Oleh karena itu, prinsip dasarnya pariwisata merupakan bagian dari kehidupan manusia itu sendiri. Maksudnya, manusia sudah mencari kebutuhannya untuk aktifitas pariwisata yang baik terhadap kehidupannya,” tambahnya.
Dalam hal pariwisata, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata melihat tahun ke tahun, kepariwisataaan Indonesia makin membaik. Sampai tahun 2004 indonesia kedatangan pelancong manca Negara, berkisar 5 juta orang. Adanya perbaikan suasana politik dari tahun 2004 – 2009, pariwisata Indonesia dinyatakan Depbudpar sudah mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Tahun 2008 lalu, termasuk tahun yang sangat baik untuk dunia pariwisata. Karena pada tahun itu, Indonesia kedatangan turis asal berbagai Negara hingga mencapai 6,3 juta orang. Hal itu menurut Turman, sesuatu pencapaian Negara Indonesia yang tertinggi selama Republik ini berdiri, bahkan hal itu dicatat dalam record MURI.
Menurut Turman, berbagai sarana dalam rangka meningkatkan kepariwisataan Indonesia, juga telah diupayakan. Misalnya, pembangunan fasilitas bandara Makasar, penyempurnaan dan perbaikan Bandara Ngurah Ray, Bandara Kuala Namu, diharapkan dapat selesai dalam waktu dekat. Bandara serta Bandara Minangkabau yang kini sudah lebih baik dan bagus.
Sarana pariwisata seperti Hotel, jelas Turman, telah dilakukan upaya pembenahan seperti telah berdirinya 10 Hotel Berbintang Lima di Menado. Serta pelaksanaan even-even yang dapat mengundang pariwisata seperti “Sail Bunaken” dan “Visit Indonesian A Years”. “Maka pada tahun 2004 - 2009 ini, Indonesia dalam pariwisata makin baik,” tandasnya.
Dituturkan Turman, berbagai ajang festival juga dilakukan, untuk upaya peningkatan pariwisata di daerah-daerah, misalnya, Danau Toba, Poso, Bali, Tomohon dan lainnya. Hal itu dilakukan bertujuan untuk mengangkat potensi potensi daerah yang ada selama ini masih kurang perhatikan. Seperti adanya ruang yang disajikan untuk dinikmati, dilihat dan menjadi daya tarik bagi pengunjung.
Tentang persoalan pemasaran, jelas Turman, pariwisata bila dilihat dari segi kunjungan luar negeri. demi menggelorakan dan menggaungkan promosi di luar negeri Depbudpar juga membawa suatu branding alat jual visit Indonesia 2008-2009. Kemudian di dalam negeri digaungkan juga dengan tema “Kenali Negerimu Cintai Negerimu”.
Dalam rangka promosi ke negara tetangga, pemerintah sejak dua tahun terakhir ini telah melakukan beberapa even yang dilakukan di daerah dekat singgungan atau perbatasan. Hal itu semisal dilakukannya even sendra tari, pentas seni di Batam dan di Belu. Intinya agar dengan dilihatnya ada beberapa even budaya dan lainnya dapat mendorong wisman dari Negara tetangga untuk datang mengunjungi Indonesia. Selain itu juga mendorong pemuda untuk melakukan kunjungan kunjungan di dalam negeri, “Itu salah satu bagian dari strategi kita,” tukas Turman.
Selain itu, kini sedang diupayakan pula sebuah bentuk pariwisata fenomena baru, yaitu wisata pedesaan. Untuk orang kota yang telah lama menetap di daerah heterogen (percampuran) itu, maka desa dengan segala keasrian dan kearifan lokalnya menjadi daya tarik sendiri. Kerinduan masyarakat kota akan desa ternyata dapat menjadi paket wisata yang tidak kalah menariknya dari wisata lainnya. Karena alam pantai dan pegunungan tempat di mana desa-desa itu berada, biasanya menjadi kenikmatan tersendiri bagi orang kota.
Namun Turman mengakui, kejayaan wisata di tahun 2008 tidak sama mulusnya di tahun 2009. Karena di tahun itu, terjadi krisis ekonomi dunia yang sangat berimbas kepada dunia wisata. Hampir semua Negara tujuan wisata tidak menaruh target dalam program kewisataan mereka. Namun pemerintah Indonesia cq Depbudpar, kata Turman, menargetkan 6,4 juta orang, atau lebih banyak 0,1 juta orang disbanding tahun 2008.
“Memang di tahun 2009 pun tidak semulus yang kita bayangkan. Karena terganggu oleh isu isu teroris dan peledakan bom dimana mana, ternyata ada kenaikan 0,4 % sehingga di capai jumlah kunjungan 6,4 juta wisman,” kata Turman dari data kerjasama dengan Badan Pusat Statistik Nasional.
Bagaimana tahun 2010
Turman menjelaskan, pemerintah yakin positif dalam melihat prosfek tahun 2010. Dari keyakinan itu, bahkan Depbudpar menargetkan akan terjadi peningkatan wisman dengan capaian kedatangan hingga 7 juta pelancong. “Kita yakin untuk mencapai 7 juta ini bisa tercapai,” tukasnya.
Keyakinan itu menurut Turman juga didasari oleh adanya peningkatan anggaran untuk pariwisata di tahun 2010. Berdasarkan APBN 2010, alokasi anggaran untuk pariwisata telah mencapai angka Rp1,3 trilliun atau naik 0,2 triliun dari tahun sebelumnya. Dengan kenaikan itu, tentunya upaya pariwisata dapat ditingkatkan dan dikembangkan lagi.
Ditinjau dari Undang-undang otonomi daerah dimana pariwisata masuk dalam urusan tambahan (pilihan) bukan pada urusan wajib, Turman menjelaskan, adanya otonomi daerah memang memberikan keleluasaan terhadap pemerintah daerah dalam mengatur urusan wilayahnya sendiri. Sehingga, diakui Turman, ada daerah yang menjadikan sektor kebudayaan dan pariwisata menjadi skala prioritas pembangunan daerahnya, namun adapula yang tidak atau di skala level II prioritas pembangunannya.
“Memang kita maklumi bahwa pemerintah menempatkan sektor pembangunan dilihat dari skala prioritasnya. Maka kita harus akui misalnya sektor pendidikan, kesehatan, sumber daya masih diprioritas wajib. Tetapi saya katakan tadi, kini pariwisata sudah menjadi prioritas utama,” jelas Turman.

Pengalokasian anggaran untuk daerah
Anggaran daerah untuk pariwisata, tergantung pada pemimpin daerahnya masing-masing. Artinya, Gubernur, Bupati atau Walikota tentunya memiliki skala tersendiri dalam menentukan prioritas apa yang harus didahulukan. Sedangkan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tidak dapat menekan atau memaksa urusan kepala daerah itu, tutur Turman.
“Tetapi kepada daerah, kita mengatakan seluruh daerah untuk melihat potensi pariwisatanya, Karena pariwisata ini layak dijadikan lokomotif perekonomian di Indonesia,” jelasnya.
Diterangkanpula oleh Turman, ada beberapa kepala daerah yang sangat focus menaruh perhatiannya ke dunia pariwisata. Kalau mereka menyadari, potensi itu di daerahnya sangat memungkinkan untuk dikembangkan. Seperti manado berkeinginan tahun 2010 - 2011 menjadi world class (tingkat dunia.red) dalam pembangunan kepariwisataannya. Karena jika pariwisata maju maka sektor lain pun akan maju. Pekerjaan Umum (PU) jalan pun akan bagus dan juga memiliki estetika (keindahan). Demikian halnya transportasi, seperti penerbangan pun semakin maju rute-rute untuk luar negeri atau ke Eropa mulai di buka.
“Disini, khususnya pihak garuda agar bisa menyikapi dengan lebih terbuka untuk kemajuan dunia pariwisata di Indonesia yang dapat di nikmati semua wisatawan mancanegara,” Jelas Turman menutup wawancara. Ian/jef

Selasa, 15 Desember 2009

UNGGUL PUB


Unggul Pub Utamakan Kenyamanan

Jika ingin relax dan bersantai menikmati musik. Anda bisa datang ke Unggul Pub. Tempat hiburan yang mengutamakan kenyamanan dan keamanan pengunjungnya.

Unggul Pub terletak di Hotel Danau Indah, Jl Raya Kalimalang No.1 Tambun-Bekasi. Merupakan tempat yang layak dan pantas untuk direkomendasikan kepada para penikmat musik malam. Sebab di tempat ini, kenyaman dan kemanan pengunjung menjadi fokus utama pelayanan manajemen pengelola hiburan malam ini.

Pengunjung Unggul Pub akan dimanjakan oleh dentuman beat Bass dan drum yang pas terdengar di telinga. Sementara suara keyboard dan gitar pemberi pernak-pernik musik sangat enak didengar. Suaranyapun terdengan stereo. Komposisi bass, midle bass, dan trebel begitu rata hingga meja terbelakang. Pengunjung tidak perlu khawatir untuk memilih duduk di mana pun, saat berkunjung di pub itu. Karena dari belakang maupun depan, suara musik akan terdengar sama, tidak berbeda. Tentunya, karena sound sistem 15.000 watt yang disediakan Unggul Pub di setting dengan baik. Sehingga di areal 400 m2, suara yang dihasilkan tidak tumpang tindih satu dengan lainnya. Begitu terdengar suara akustiknya, tidak asal keras tetapi baik bagi telinga.

“Di sini juga ada show time dari artis dan entertain ibukota, jadwalnya kita pampang di depan sebelum masuk Unggul. Selain itu, musik disco time di Unggul Pub, kita samakan dengan tempat-tempat hiburan di Selatan Jakarta,” jelas Direktur Utama Unggul Pub. Marico Mangaratua Sitorus, SE, saat Arta News berkunjung ke pub itu.

Di pub ini, terdapat 35 table (meja). Masing-masing dilengkapi mebel yang berukuran besar dengan busa yang empuk. Sehingga pengunjung dapat bersantai dan nyaman menikmati minuman yang tersedia di pub ini.

Menambah keindahan, dindingnya dihiasi dengan lukisan-lukisan yang memberi kenikmatan pandangan mata. Set Tabel pun tersusun begitu rapih dan teratur. Gang-gang dari table satu ke lainnya jaraknya cukup luas. Sehingga tidak mengganggu pengunjung lainnya, ketika pengunjung melintas di gang itu. Karena biasanya jarak yang sempit seringkali menimbulkan ketidaknyamanan, bisa tersenggol atau tersandung pengunjung lainnya. Apalagi berjalan di suasana remang-remang, keinginan mau relax bisa saja buyar akibat tersenggol.

Pilar-pilar besar berwarna pernikel yang menyanggah bangunan Unggul serta kaca di beberapa sisi, menambah ekslusif interior Unggul Pub. Kendati pub itu terkesan ekslusif, harga minuman di Pub ini relatif lebih murah dibanding tempat hiburan di Jakarta. Misalnya harga bir hanyaRp27 ribu, padahal di beberapa tempat hiburan lainnya harganya sudah mencapai Rp30 ribu. Begitupula minuman seperti Chivas dan Black Label di pub, jelas lebih murah. “Murah bukan berarti tidak berkualitas. Soal kualitas, kita tetap jaga bagi pelanggan kita,” tegas Manajer Pengelola Unggul Pub, Buluher Sitorus “Kita tidak ingin pengunjung tidak nyaman karena minumannya tidak berkualitas,” tambahnya.

Untuk parkir mobil, pengunjung tidak perlu khawatir. Karena lahan parkir Unggul Pub sanggup menampung 50 mobil sekaligus. Jaraknya pun tidak jauh dari depan pintu masuk pub malam itu. Sehingga pengunjung yang membawa mobil tidak perlu takut parkir seperti di pub atau kafe lainnya yang tidak menyediakan lahan parkir.

Pelayanan pun sangat teratur. Karena setiap jam 20.00 WIB, manajemen dan seluruh karyawan pub biasanya melakukan briefing terlebih dahulu. Sehingga, tidak akan terjadi pengunjung di tipu oleh waitress. Karena manajemen sangat menjaga pelayanan para waitress, agar tidak mengecewakan tamu.

Rico menjelaskan, pubnya akan kembali mengembangkan acara-acara festival trio dan penyanyi cafe di kemudian hari. Sebenarnya, program-program festival itu sudah dirancang dari awal pub itu berdiri, 1,5 tahun. Namun, hal itu belum berjalan. Sehingga di tahun 2010, kegiatan itu akan dicoba untuk diterapkan pub ini.

“Kita juga berencana akan membuka Unggul Pub ke 2 di daerah Cileungsi, tepatnya di Mekar Sari. Di daerah ini masih sedikit tempat hiburan. Karena tempat hiburan rata-rata menyebar di Jakarta. Banyak orang Cileungsi mencari hiburan ke Jakarta. Makanya kita optimis berlokasi di sana,” tandas Rico.

Pub malam ini tidak semata menampilakn lagu dan artis Batak. Namun diakui Rico, komposisi saat ini, memang masih lebih didominasi lagu-lagu Batak. Tetapi, sesekali pub ini juga mengudang artis yang bukan Batak, sebagai variasi hiburan pub ini.

Unggul Pub, termasuk tempat hiburan yang taat azaz. Karena izin, pajak dan lainnya, dianggap sangat penting. Karena hiburan malam termasuk dari objek pariwisata malam dan menambah income daerah. Pemda Kabupaten Bekasi bahkan memberikan catatan khusus bagi Unggul Pub, karena izinnya lengkap diurus dan selalu diperpanjang. Sedangkan di bulan puasa dan hari-hari besar agama, Unggul Pub tutup dan tidak merasa rugi harus berhenti mengumpulkan profit di waktu-waktu khusus itu.

Lokasi unggul pub pun mudah di jangkau, jika dari Jakarta masuk tol ke arah Cikampek dan ke luar di pintu tol Tambun kemudian mengarah ke Kalimalang. Di jalan raya kalimalang itu sudah terlihat Hotel Danau Indah. Di situlah letak pub yang menjanjikan kenyamanan bagi para penikmat hiburan malam.

Sebagai catatan, pub ini juga menyediakan menu minuman khusus, racikan bartender Unggul yang memiliki pengalaman di Grand Hyatt. Nama minuman itu, Coktail dan Long Island ‘ala’ Unggul Pub. Rasanya sangat khas dan khusus. Silahkan mencoba! jef

Donald Sihombing


Direktur Utama PT Totalindo, Ir.Donald Sihombing

50 Ribu Bingkisan Untuk Anak SKM HKBP di Humbahas

Ada sebuah kenangan masa kecil yang selalu melekat di pikiran Direktur Utama, Totalindo, Donald Sihombing. Kisah masa kanak-kanaknya itu yang selalu menggugah nurani Donald agar suatu saat, bila Tuhan mengizinkan, ia berniat memberikan hadiah natal bagi seluruh anak-anak sekolah minggu (Kurang lebih berjumah 50 ribu) yang berada di Humbang Hasundutan (Humbahas) lewat gereja HKBP di sana. “Kenangan itu sering saya ingat. Dari situ saya memahami begitu berartinya sebuah hadiah natal bagi anak-anak,” tukas Donald.

Kisah kecil itu terjadi saat natal Sekolah Minggu di HKBP Sukarame, Medan, di tahun 1969 lalu. Selepas pajojorhon (liturgi), biasanya seminggu kemudian anak-anak mendapat bikisan natal dari gereja. Donald kecil pun berderet dibelakang abangnya, Oloan Sihombing yang menggandeng adiknya, Sahata Sihombing. Tiba pada gilirannya, Oloan mendapatkan 4 hadiah natal, sementara Sahata hanya diberikan 2 buah.

Dengan tujuan agar masing-masing bisa mendapat 4 buah hadiah, Donald pun menggandeng Sahata. Ternyata, sintua yang membagikan hadiah itu mengenali adik si Donald. “Kamukan sudah,” kata sintua itu, seperti dituturkan Donald. Namun Donald merasakan hati adiknya yang kecewa ketika maksudnya tidak tercapai. Kenangan itu, begitu membekas di hati Donald, sehingga ia sangat memahami artinya sebuah hadiah bagi anak-anak.

“Sanking membekasnya, hingga sekarang, saya masih ingat sintua yang membagikan hadiah itu, namanya ST. Jogal Togatorop,” jelas Donald.

Bahkan dari kenangan itu, sudah menjadi kebiasaan Donald bila pulang ke kampungnya di Desa Parulokkan, Lintong Ni Huta, Humbahas untuk membawa makanan yang akan dibagi-bagikannya kepada anak-anak di kampungnya itu. Sehingga tak heran jika kedatangan Donald selalu ditunggu-tunggu anak-anak kecil kampungnya itu. Bila mendengar Donald datang, mereka biasanya berbondong-bondong datan menemui Pria lulusan USA itu.

Sekarang ini, dengan apa yang telah diraihnya. Donald yang peduli kampung halamannya itu, rencananya akan membagikan bingkisan terhadap kurang lebih 50 ribu anak-anak si seluruh Humbahas saat natal bulan ini. Hal itu dilakukannya terutama, karena ia merasakan betapa besar berkat yang ia terima dari Tuhan lewat usahanya di bidang kontraktor.

“Semoga semua berjalan lancar, karena saya sudah meminta kepada jasa pembuat bingkisan natal. Rencananya, pada tanggal 15 hingga 22 Desember tahun ini, kita membagi-bagikan 50 ribu bingkisan natal untuk anak-anak Sekolah Minggu di seluruh gereja Humbahas. ,” jelas Donald.

Kepedulian terhadap Kampung Halaman

Sosok Donald tentunya dapat menjadi tauladan bagi orang kaya Batak yang ada di rantau. Alasannya, kendati masa hidupnya lebih banyak dihabiskan di luar kampung halamannya, Humbahas. Pria lulusan USA ini, tidak sungkan-sungkan untuk mengulurkan tangannya demi kemajuan kesejahteraan dan keberhasilan Humbahas.

Buktinya, ia dengan tanpa pamrih mendukung pemilihan Bupati Humbahas, Maddin Sihombing. Dukungan itu diberikannya meliputi tenaga, pemikiran dan materi yang tidak sedikit jumlahnya. Semata, demi keberhasilan daerah otonomi baru itu. Sehingga ia merasa perlu mendukung calon bupati yang karakter dan pemikirannya dinilainya baik. Karena hanya ditangan orang yang baik dan memiliki visi membangun, menurutnya, Humbahas bisa bergerak menuju kesejahteraan rakyat. Ditambahlagi dengan ada dukungannya yang tanpa pamrih, dapat memberikan rasa tenang dan nyaman bagi bupati incumbent dukungannya itu. Karena biasanya, banyak orang memberikan dukungan dalam pilkada memiliki pamrih di belakang hari. Sehingga pekerjaannya apabila ia menjadi bupati terpilih, biasanya tidak pernah bisa maksimal, cenderung korupsi atau menyalahgunakan wewenang demi mengembalikan hutang yang ditagih pendukungnya itu.

Kenapa tidak pamrih? Donald menjawab, “Apa yang saya harapkan dari proyek-proyek pemerintah di Kabupaten Humbahas. Paling proyek ratusan juta, sementara saya disini (Jakarta) menangani proyek-proyek besar. Jadi Kepentingan saya untuk Humbahas, semata demi perbaikan rakyat kampung halaman saya”.

Ditanya apakah tidak menyesal mendukung Maddin Sihombing, Donald pun menjawab dengan sigap, “tidak”. Alasannya, saat ini prestasi yang dilakukan Bupati Maddin, masuk dalam daftar terbaik daerah otonom baru yang dimekarkan di Indonesia. Selain itu, di beberapa ajang prestasi, Humbahas bahkan tidak jarang menjadi juara dan mendapat nilai yang tinggi.

“Sejak pemerintahan Maddin, Humbahas menjadi salah satu daerah otonom baru terbaik di Indonesia. Juara Sumut Ekspo dan sekarang ini, sudah ada Universitas yang mendukung pendidikan bagi anak-anak di Humbahas. Selain itu seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) sudah dilakukan dengan transparan. Karena melibatkan Universitas Sumatera Utara (USU) yang terkenal sangat sulit disuap,” jelas Donald.

Donald juga merasa miris, ketika melihat orang Batak yang sukses dengan jabatan yang tinggi di pemerintahan, tetapi tidak perduli kampung halamannya. Tetapi justru ketika sudah pensiun, mereka bicara seperti seorang juru selamat yang mengaku mampu merubah Humbahas dalam waktu yang cepat.

Singkatnya, Donald mantan pengusaha kopi yang memopulerkan kopi ‘Sigararutang’ itu menjelaskan, dirinya yakin tidak salah mendukung Maddin Sihombing. Karena di era kepemimpinan Maddin sebagai Bupati Humbahas, jalan-jalan desa yang dulunya rusak di beberapa tempat telah terbangun dengan baik. Sehingga menurutnya, pemerintahan seperti ini perlu didukung kembali demi pembangunan yang telah direncanakan merata dan baik untuk Humbahas. Karena sangat riskan memberi dukungan kepada orang yang tidak jelas karakternya dan siapa yang mendukungnya. Salah-salah, rakyat Humbahas makan kepahitan sementara oranglain yang dapat manisnya.

Kiat Sukses Donald

Menurut Donald, dari apa yang dipelajarinya dari alkitab. Tuhan tidak ingin manusia hidup miskin. Namun untuk sukses yang diberkati, manusia harus menjalankan pesan Firman Tuhan itu. Sehingga pengusaha yang mengerjakan Mall Taman Anggrek, Hotel Mulia dan beberapa tempat lainnya itu, merumuskan kiat sukses yang berkenan di hadapan Tuhan. Kalau mau sukses pertama-tama harus takut akan Tuhan, rajin, memiliki keahlian, memiliki mimpi (cita-cita) dan mau menjadi saluran berkat.

Dijelaskannya, dengan rasa takut akan Tuhan artinya orang tersebut menjalankan usaha dengan rasa takut berbuat dosa. Kerajinan dan keahlian menjadi modal yang sangat diperlukan untuk meraih pekerjaan dan prestasi kerja. Sedangkan mimpi, adalah cita-cita untuk menjadi sesuatu (sukses). Kemudian, menjadi saluran berkat bagi orang lain dan mengembalikan seperpuluhke rumah Tuhan/gereja untuk menambah kemulianNya di muka bumi ini. Tentunya, kelima kiat sukses itu mesti diimani. Sehingga tidak ada pikiran negatif yang dapat meragukan kiat ini.

Donald mengaku, ketika ia menjalankan kelima kiat itu, dirinya lebih diberkati Tuhan dan dari berkat itu ia merasakan ketenangan. Karena banyak orang sukses dengan cara yang tidak benar. Akhirnya, kesuksesannya itu malah membawa penderitaan bagi dirinya. Diakhir wawancara ia juga mengingatkan standar sukses masing-masing orang berbeda. Sehingga hasil tidak selalu sama. Namun yang terpenting bila kiat itu dilakukan, damai sejahtera otomatis menaungi orang tersebut.

Adik perempuan Donald, Ny. Rivan Napitupulu/Rita Br Sihombing menjelaskan kepada Arta News, bawah bingkisan yang rencananya akan diberikan itu berisikan sikat, pasta gigi, coklat, susu. Chiki dan beberapa permen. Karena makanan itu yang biasanya disukai anak-anak. Namun perlu sikat gigi agar gigi tetap kuat dan minum susu agar sehat. jef

PROTAP


Provinsi Tapanuli

Mana Dulu Yang Perlu Dibahas?

T

ahun baru segera tiba. Peluang pembentukan daerah otonomi baru di tahun 2010 ini, kembali terbuka. Sesuai janji pemerintah, pemekaran daerah akan dilanjutkan kembali. Artinya Provinsi Tapanuli bisa jalan terus. Memang protap tinggal melengkapi administrasi, namun ada dua yang selalu menjadi buah bibir orang Tapanuli. Yaitu tentang siapa panitianya dan dimana ibukotanya?

Ir. Leonard H. Nababan, STAFF KHUSUS Menteri Koodinator Bidang Kesejahteraan Rakyat RI sekaligus Wakil Sekjen di Partai Golkar kepada Arta News menjelaskan, Nelson Mandela dalam perjuangannya dipenjara. Namun rakyat pendukung perjuangan Nelson tetap menjalankan keinginan mereka untuk melawan persoalan aparteid (perbedaan ras) dan mereka pun menang.

“Kita juga menghargai perjuangan panitia pembentukan protap. Jadi protap harus diteruskan,” tandas Leo.

Sedangkan tentang kepanitiaan, menurutnya, tidak perlu ada lagi. Karena legislatif sebagai wakil aspirasi rakyat untuk protap sudah banyak yang duduk di DPRD dan RI.

“Selama ini kan, mereka berkampanye mendukung protap. Nah, sekarang ketika sudah duduk, sepantasnya janji itu ditagih. Jadi tidak perlu panitia karena sudah ada wakil pembentukan protap di legislatif baik DPRD maupun RI,” jelas Leo

Terkait dengan beban prioritas yang diemban DPRD SUMUT, Leo menegaskan, bahwa semua itu bisa jadi penting. Khususnya DPRD dari pemilihan Sumut 2, harus melihat bahwa prioritas masyarakat Sumut 2 adalah ingin terbentuknya protap.

“Jadi ada skala prioritas dan itu yang harus diperjuangkan oleh anggota DPR yang terpilih itu. Kita berikan kesempatan. Jadi kalau nggak dilanjutkan ya itulah resikonya. Salah pilih wakil.” Jelasnya “Salah pilih wakil DPR tidak salah, yang salah pemilihnya,” tambahnya kemudian.

Masyarakat Sumut 2 juga diingatkan Leo, dari kenyataannya rakyat dapat menilai, apakah benar wakilnya di DPR RI dan DPRD memperjuangkan protap seperti keinginannya. Jika wakil mereka mengingkari janjinya tersebut, maka hal itu adalah kesalahan mereka sendiri. Karena mereka memilih orang yang tidak dapat mewakili aspirasinya.

Dimana letak ibukota Protap, dikatakan Leo, tidak perlu untuk menentukan kedudukan ibukota dahulu jika itu menjadi persoalan. Yang terpenting menurutnya lahir dulu provinsi ini. Karena dengan banyaknya beban kabupaten di bawah pemerintahan Provinsi Sumatera Utara (Provsu), menurutnya sangat tidak ideal.

“Jadi, tidak perlu dijadikan persoalan dimana letak Protap. Saya tidak terlalu perduli dimana letak Protap. Yang terpenting lahir dulu Protap itu. Baru diberi nama dimana ibukotanya,” jelas Leo.

Disoal bahwa penentuan Ibukota sebagai syarat, Leo menegaskan, buat saja apa ibukotanya. Setelah lahir protap baru dibicarakan kembali. Karena dengan membicarakan ibukota, maka urgensi protap demi menyejahterakan rakyat meleset dari tujuannya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Komite Pemantau dan Pemberdayaan Parlemen Indonesia (KP3I), Tom Pasaribu menjelaskan, dibenahi dahulu panitia yang ada ini. Makanya panitia yang kemarin dianggapnya gagal, akibat lari dari visi dan misi protap semestinya.

“Kemudian, disosialisasikan kepada masyarakat, sehingga gagasan Tapian Nauli itu sudah sampai Sibolga, Barus Sidikalang, Tanah Karo dan lainnya. Jadi, tidak bisa protap ini sampai ke Nias,” kata Tom.

Karena menurut Tom, persoalan yang paling terang benderang terlihat dari persoalan Protap ini adalah kepanitiaan. Di masyarakat grass root, persoalan protap tidak ribut kepentingan, berbeda di tingkat panitia. “Kalau saya mengingatkan begini, kalau ini dipikirkan hanya untuk kepentingan kelompok ataupun pribadi, nggak usah Protap itu diteruskan!” tandasnya.

Sedangkan tentang ibukota, Tom mengatakan, panita Protap terlalu banyak permainan. Sehingga persoalan ibukota menjadi masalah. Sementara melihat keresidenan Tapanuli waktu itu, adalah Sibolga. Jadi sepantasnya menurutnya dipilih Sibolga sebagai ibukota Protap.

“Jadi kenapa bukan Sibolga yang menjadi ibukota itu yang jadi pertanyaan saya,” tandasnya “Jadi kalau kita masalah ibu kota saja kita sudah ribut, itu sudah tidak benar menurut saya,” tambahnya.

Senada dengan Tom, Tim Advokat Tragedi Protap TATAP, Mangapul Silalahi, SH menjelaskan dari awal ia sudah melihat tidak adanya kekompakan dalam panita. Bukti paling jelas menurutnya terlihat di pengadilan. Masing masing yang terlibat kasus meninggalnya Ketua DPRD Sumut, Abdul Aziz Angkat pada tanggal 13 Februari 2009 lalu, memiliki kuasa hukum masing-masing. “Itu indikasi awal,” imbuhnya.

Kemudian ketidaksatuan visi pun sangat terlihat ketika sudah ada ‘perang terbuka’. Antar panitia ada blok-blok dengan sekretaris. Saling sikut-menyikut pun kian mewarnai hubungan antar panitia. Pernyatan yang dikeluarkan satu sama lainnya menjadi berbeda.

Penuturan Mangapul, sekretaris panitia protap pernah mengatakan bahwa ada pencairan dana yang tidak masuk ke panitia dan masuk ke rekening pribadi, dan itu terbukti. Sementara bendahara juga mengakui bahwa dirinya menjadi bedahara yang tidak pernah terima atau mengeluarkan uang. Sejak awal memang mereka sudah tidak kompak dan saling menyelamatkan diri masing masing. Jadi kasihan mahasiswa yang terkena kasus itu.

Menurutnya, solusi protap adalah jika seluruh kabupaten yang tergabung dalam bakal daerah otonomi daerah baru itu satu visi dan misi yaitu untuk keluar dari peta kemiskinan. Serta mereka memahami bahwa protap demi pertumbuhan ekonomi dan kehidupan mereka. “Menurut saya itu akan cepat jadi,: tukas Mangapul.

Ia uga menegaskan, panitia sekarang lebih baik mundur saja. Bukan saja mereka dianggap tidak mampu, Karena disisi lain, panitia juga terlibat persoalan hukum yang mereka hadapi dan menyita waktu paling lama 2 tahun itu.

Urgensi Provinsi Tapanuli

Sementara itu disoal tentang urgensi Protap, Leo Nababan menjelaskan, Protap adalah masalah keselamatan umat. Yaitu memberi kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat Tapanuli. Karena terlihat dari daerah pemekaran baru seperti Provinsi Gorontalo dengan sendirinya APBD nya naik. Hal yang sama juga terjadi pada Provinsi Banten dan Bangka Belitung.

“Tetapi kalau orang tapanuli nggak bisa membebaskan diri dari situ, ya cilaka. Maka gambarannya, banyak orang Tapanuli di luar Sumut hebat-hebat. Walapun tentang hal itu saya juga mengecam. karena hebatnya diluar kandang saja. Sementara kampungnya miskin. Saya berkali kali bicara itu di forum,” tegasnya.

Dari sisi keuntungan, pembagian kemakmuran pun dapat lebih cepat. Semisal, dana dari pusat untuk Provinsi juga dapat. Bukan hanya sebagaian dana itu. Selain itu, berdirinya kantor polda, kejati, kehakiman, tentunya memberi manfaat besar bagi masyarakat setempat. Ekonomi pun menjadi hidup.

“Jadi tentang masalah Asahan. Sekarang ini kontraknya 30 tahun untuk pemerintah Indonesia dan Provsu dapat bagian. Nah, kalau nanti protap berdiri, 60 triliun yang dikelola Sumut itu dibagi, maka bisa makmur semua,” jelas Leo.

Keuntungan lainnya, persoalan birokrasi pun menjadi praktis, ekonomis dan efisien. Sedangkan jika kondisi saat ini (Provsu) dipertahankan, maka mengurus surat dan administrasi banyak membuang waktu, materi dan tenaga karena jaraknya sangat jauh. Tentunya jika provsu ini dipecah menjadi beberapa provinsi akan lebih mempersingkat semua itu.

“Sekarang ini, misalnya mau ngurus surat dari Bupati Tapanuli Tengah ke Medan. Jarak yang ditempuh sudah memakan waktu 20 jam. Ini Sudah tidak lojik. Sekarang ini, 2-3 jam itu baru benar,” tandasnya “Untuk itu, pemekaran Sumut adalah solusi,” tambahnya.

Tom Pasaribu berbeda, urgensi protap tidak semata-mata untuk mengharapkan Dana Alokasi Umum (DAU), karena biasanya dana itu tidak dapat memberikan kesejahteraan atau pengembangan Pendapatan Anggaran Daerah (PAD), Namun menurutnya, lebih tepat protap itu agar lebih fokus dalam pembangunan secara mandiri untuk meningkatkan potensi daerah, Sehingga berbagai program untuk kesejahteraan masyarakat dapat lebih mengedepan dan terbina lebih lagi demi kesejahteraan masyarakat di Tapanuli. Karena banyak kekayaan alam yang perlu digali. Begitu pula pola sistem pertanian dapat lebih ditingkatkan, seperti ternak dan kotorannya yang dapat dijadikan pupuk dapat dikembangkan lebih lanjut.

SARA

Isu agama yang sempat mencuat mewarnai protap, dianggap Leo sebagai pemikiran sempit dan sok pintar. Palagi itu dihubung-hubungkan dengan persoalan NKRI. Bahwa dengan berdirinya protap akan melemahkan kesatuan Indonesia. “Mendirikan protap saya selalu katakan tidak dilarang. Tetapi, mendirikan Negara Tapanuli, itu yang dilarang,” tandasnya “Jadi jangan pamalo maloon (sok pintar),” tambahnya.

Tom juga berpendapat sama, di batak tidak mengenal perbedaan agama. Adanya pemikiran yang membedakan agama itu, menurutnya, terkontaminasi dan sok pintar. Jadi Jangan bahas agama. Ini sekarang, urusan dunia. Jadi urusan vertikal itu urusan pribadi dengan penciptaNYa.

Saya harapkan,umat muslim disana, Gereja gereja maupun parmalim satukan dulu semua demi protap.

Belajar dari peristiwa Medan, orang batak harus belajar melakukan evaluasi. Karena banyak mekanisme kultural orang batak yang memungkinkan terciptanya kesepakatan-kesepakatan dalam adat. Karena orang batak itu tidak identik dengan kekerasan. Tapi, demokratis, menghargai sesama orang.

“Sehingga citra kita kembali mendapat tempat baik local dan nasional. Kita orang batak sekarang memang terpuruk karena kesatuan dihati orang batak berkurang, egonya muncul dan cenderung mengelompok. Namun, Kalau bukan kita membangun kampung kita siapa lagi?” ian/jef